Thursday, August 4, 2011

Tentang Depresi

DEFINISI
Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan, dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam (Wahyudi Nugroho, 1995).
Depresi juga sebagai suatu gangguan alam perasaan, ditandai oleh kesedihan, harga diri rendah, rasa bersalah, putus asa dan perasaan kosong (Stuart & Sundeen, 1987)
Depresi biasanya ditimbulkan oleh perasaan inferior, rasa sakit hati yang dalam, kekecewaan-kekecewaan yang hebat, penyalahan diri sendiri dan trauma-trauma psikis.

Depresi adalah penyakit yang menyerang "keseluruhan hidup seseorang", meliputi seluruh tubuh, suasana perasaan dan pikiran. ia juga mempengaruhi pola makan dan tidur. Gangguan ini tidak sama dengan seorang yang dalam keadaan kelelahan atau malas. Seorang yang mengalami gangguan depresi tidak dapat "menguasai diri" dan keadaaannya untuk dapat kembali pada keadaannya seperti semula. Tanpa penanganan yang baik maka gejala-gejala tersebut mengakibatkan terganggunya fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya dari seseorang dan gejala tersebut berlangsungnya jadi lebih lama. Penatalaksanaan yang sesuai dapat menolong seseorang yang mengalami depresi untuk cepat kembali seperti semula lebih baik. Definisi gangguan depresi adalah gangguan mental yang dikarakteristikan dengan rasa sedih yang dalam dan berkepanjangan. Penderita hilang minat (interest) pada sesuatu yang sebelumnya menyenangkan baginya. Biasanya disertai dengan perubahan-perubahan lain pada dirinya misalnya berkurangnya energi, mudah lelah dan berkurangnya aktivitas, konsentrasi dan perhatian yang berkurang, harga diri dan kepercayaan diri yang berkurang, rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang.
Untuk menemukan penyebab depresi kadang-kadang sulit sekali karena ada sejumlah penyebab dan mungkin beberapa diantaranya bekerja pada saat yang sama. Peristiwa dalam kehidupan dan stres lingkungan dapat berpengaruh dalam terjadinya depresi pada seseorang. Para klinikus percaya bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan penting dalam terjadinya depresi. Salah satu bentuk peristiwa kehidupan adalah kehilangan, yang dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
a. Kehilangan abstrak: kehilangan harga diri, kasih sayang, harapan atau ambisi.
b. Kehilangan sesuatu yang konkrit: rumah, mobil, protet, orang atau bahkan binatang kesayangan.
c. Kehilangan hal yang bersifat khayal (tanpa fakta) : merasa tidak disukai atau dipergunjingkan orang.
d. Kehilangan sesuatu yang belum tentu hilang: menunggu hasil tes kesehatan, menunggu hasil ujian, dan lain-lain.


Paykel dan Hollyman; Leff & Vaughn; Brown et. al (dalam Comer, 1991) menemukan bahwa dokter-dokter terkemuka mengatakan bahwa depresi itu berasal dari peristiwa-peristiwa yang penuh dengan stress. Peristiwa hidup yang penuh stress juga mengawali munculnya schizoprenia, anxiety disorder dan gangguan psikogis lainnya, tetapi orang yang depresi dilaporkan lebih mudah terpengaruh daripada orang lain. Sumber stress seperti kehilangan orang yang dicintai, perceraian, kegagalan dan tekanan pekerjaan dapat memberi sumbangan untuk munculnya depresi (Coyne et al; Eckennode Lewinsohn & Amenson; Stone & Neale dalam Rathus & Nevid, 1991). Sarason & Sarason (1993) menyatakan bahwa depresi dapat juga disebabkan karena ada faktor gen atau karena tidak berfungsinya beberapa faktor fisiologis yang mungkin diwarisi ataupun tidak.




GEJALA DEPRESI
Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik & sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan. Sebelum kita menjelajah lebih lanjut untuk mengenali gejala depresi, ada baiknya jika kita mengenal apakah artinya gejala. 
Gejala adalah sekumpulan peristiwa, perilaku atau perasaan yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu yang bersamaan. Gejala depresi adalah kumpulan dari perilaku dan perasaan yang secara spesifik dapat dikelompokkan sebagai depresi. Namun yang perlu diingat, setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar, yang memungkinkan suatu peristiwa atau perilaku dihadapi secara berbeda dan memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Gejala-gejala depresi ini bisa kita lihat dari tiga segi, yaitu gejala dilihat dari segi fisik, psikis dan sosial. Secara lebih jelasnya, kita lihat uraian di bawah ini.
a. Gejala Fisik
Menurut beberapa ahli, gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Namun secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi. Gejala itu seperti :
- Gangguan pola tidur (sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit)
- Menurunnya tingkat aktivitas. Pada umumnya, orang yang mengalami depresi menunjukkan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti nonton TV, makan, tidur.
- Menurunnya efisiensi kerja. Penyebabnya jelas, orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal, atau pekerjaan. Sehingga, mereka juga akan sulit memfokuskan energi pada hal-hal prioritas. Kebanyakan yang dilakukan justru hal-hal yang tidak efisien dan tidak berguna, seperti misalnya ngemil, melamun, merokok terus menerus, sering menelpon yang tak perlu. Yang jelas, orang yang terkena depresi akan terlihat dari metode kerjanya yang menjadi kurang terstruktur, sistematika kerjanya jadi kacau atau kerjanya jadi lamban.
- Menurunnya produktivitas kerja. Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya, ia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya. Ia sudah kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan kegiatannya seperti semula. Oleh karena itu, keharusan untuk tetap beraktivitas membuatnya semakin kehilangan energi karena energi yang ada sudah banyak terpakai untuk mempertahankan diri agar tetap dapat berfungsi seperti biasanya. Mereka mudah sekali lelah, capai padahal belum melakukan aktivitas yang berarti .
- Mudah merasa letih dan sakit. Jelas saja, depresi itu sendiri adalah perasaan negatif. Jika seseorang menyimpan perasaan negatif maka jelas akan membuat letih karena membebani pikiran dan perasaan dan ia harus memikulnya di mana saja dan kapan saja, suka tidak suka! 
b. Gejala Psikis
Perhatikan baik-baik gejala psikis di bawah ini, apakah Anda atau rekan Anda ada yang mempunyai tanda-tanda seperti di bawah ini :
- Kehilangan rasa percaya diri. Penyebabnya, orang yang mengalami depresi cenderung memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Pasti mereka senang sekali membandingkan antara dirinya dengan orang lain. Orang lain dinilai lebih sukses, pandai, beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih diperhatikan oleh atasan, dan pikiran negatif lainnya.
- Sensitif. Orang yang mengalami depresi senang sekali mengkaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Perasaannya sensitif sekali, sehingga sering peristiwa yang netral jadi dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh mereka, bahkan disalahartikan. Akibatnya, mereka mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga akan maksud orang lain (yang sebenarnya tidak ada apa-apa), mudah sedih, murung, dan lebih suka menyendiri.
- Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang seharusnya mereka kuasai. Misalnya, seorang manajer mengalami depresi karena ia dimutasikan ke bagian lain. Dalam persepsinya, pemutasian itu disebabkan ketidakmampuannya dalam bekerja dan pimpinan menilai dirinya tidak cukup memberikan kontribusi sesuai dengan yang diharapkan.
- Perasaan bersalah. Perasaan bersalah terkadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka atas situasi tersebut.
- Perasaan terbebani. Banyak orang yang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialaminya. Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani tanggung jawab yang berat. 
c. Gejala Sosial
Jangan heran jika masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan (atau aktivitas rutin lainnya). Bagaimana tidak, lingkungan tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umumnya negatif (mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitif, mudah letih, mudah sakit). Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.


Gejala depresi pada anak sangat tidak khas, sama seperti gejala depresi pada orang lanjut usia. "Sehingga sering disebut depresi terselubung ('mask depression'). Pada orang lanjut usia, depresi lebih banyak tampil dalam keluhan fisik kronis, menyangkut banyak organ, berganti-ganti dan tidak konsisten (somatisasi), serta tidak sesuai dengan hasil obyektif pemeriksaan medis. "Depresi pada lanjut usia juga sering muncul sebagai keluhan kognitif, seperti mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan malas berpikir."  Depresi pada anak lebih sering muncul dalam perilaku agresif, nightmare, atau keluhan keluhan somatis seperti anoreksia, gangguan pencernaan, dan sebagainya. Salah satu contoh depresi anak misalnya ketika ia punya adik baru. "Ia tidak menangis, tapi depresi ditunjukkan dengan bertingkah nakal," jelas Erwin yang juga seorang psikiater anak. "Atau, tanpa sadar, anak mengulang hal-hal yang pernah dilakukannya dulu. Misalnya, mengompol. 'Dulu saya ngompol, diperhatikan. Sekarang, tidak ngompol malah tidak diperhatikan. Kalau begitu, saya akan ngompol lagi'."
Apakah depresi berat sudah berjangkit? Kenali lewat tanda-tanda dan gejalanya :
•lelah berkepanjangan 
•tidak bergairah 
•kehilangan minat dan kesenangan 
•selera makan dan/atau berat badan berubah secara signifikan. 
•gangguan tidur 
•tak bisa beristirahat 
•ceroboh 
•khawatir berlebihan 
•berpikir akan mati atau bunuh diri.

Selain tanda-tanda non-fisik, tanda-tanda yang juga harus diwaspadai sebagai gejala depresi adalah adanya berbagai keluhan fisik/somatis seperti berat badan turun, disfungsi seksual, dan gangguan tidur. Sebuah pepatah lama mengatakan, "Jika kesedihan tidak diungkapkan dengan air mata, maka organ-organ tubuh lain-lah yang akan menangis. Ini yang disebut psikosomatik, yaitu gangguan terjadi di jiwa, tapi tampil di badan." Misalnya, sakit maag. "Padahal semua bagus, makan teratur, tidak pernah makan yang pedas, tapi, kok, kena ya." 

Secara lengkap gambaran depresi menurut DSM IV adalah sebagai berikut :
a. Mood depresi sepanjang hari, hampir sepanjang hari, terindikasi baik melalui perasaan subjektif (perasaan sedih atau kosong) maupun melalui observasi orang lain (tampak sedih)
b. Ditandai dengan berkurangnya minat atau gairah pada segala hal, atau hampir segala hal, dalam aktivitas sepanjang hari, ataupun hampir sepanjang hari.
c. Berat badan menurun secara signifikan tanpa melakukan diet atau penaikan berat badan (perubahan lebih 5 % dari berat badan setiap bulan), atau penaikan atau penurunan nafsu makan hampir setiap hari.
d. Insomnia atau hypersomnia hampir setiap hari.
e. Agitasi dan retadasi psikomotor (gaduh gelisah atau lemah tidak berdaya).
f. Psikomotor menjadi lebih lambat (atas observasi orang lain)
g. Fatique atau kehilangan energi hampir setiap hari.
h. Perasaan tidak berharga atau perasan bersalah yang berlebihan dan tidak sesuai (dapat berupa delusi) hampir setiap hari.
e. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau keragu-raguan, hampir setiap hari.
f. Pikiran berulang tentang kematian, pikiran berulang untuk bunuh diri tapa rencana yang spesifik, adanya percobaan untuk bunuh diri atau rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri.


TREATMENT
a. Relaksasi Teknik Stabilisasi (Lightstream)
Klien dilatih untuk melakukan relaksasi ketika ia sedang merasa tertekan. Ia diminta untuk menutup mata dan menarik nafas perlahan-lahan lalu melepaskannya. Kemudian, Ia diminta untuk membayangkan adanya sebuah sinar yang dapat membuat dirinya merasa nyaman.
b. Cognitive Behavior Therapy
- Mengubah pemikiran-pemikiran negatif klien yang membuatnya depresi menjadi positif
- Mengenali automatic thought
Klien diminta untuk memperhatikan apa yang ia pikirkan ketika ia mengetahui adanya rasa tertekan muncul. Pada tahap ini, klien diarahkan untuk mengenali situasi-situasi saat rasa tertekan muncul sehingga menimbulkan automatic thought pada dirinya.
- Mengonfrontasi automatic thought
Pemeriksa kemudian meminta UY untuk mengonfrontasi automatic thoughtnya tersebut, salah satunya dengan cara menanyakan “ Apakah kamu 100% yakin bahwa (automatic thought) akan terjadi?”
c. Membuat garis peristiwa hidup yang dilengkapi dengan tingkat kecemasan (range 0-100) pada setiap peristiwa bermakna yang dilaluinya. Hal ini dilakukan untuk membuat klien lebih dapat mengenali perasaan tertekannya selama ini.
d. Memberikan psikoedukasi mengenai pentingnya untuk tetap berkegiatan, seperti olahraga, bekerja, dan bersosialisasi dengan lingkungan. Hal-hal tersebut dapat membantu untuk mengurangi depresi atau kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri.
e. Pemberian psikoedukasi mengenai manfaat berbagi dan bersikap terbuka dengan orang lain. Dengan berbagi masalah maka dapat membantu klien untuk mengurangi kecemasan, membuat perasaan menjadi lebih baik, dan dapat pula membantu untuk memecahkan masalah.




sumber : aryaverdiramadhani.blogspot.com dan jiwajiwi.blogspot.com :)

5 comments:

  1. Awesome information..
    Keep writing and giving us an amazing information like this..

    ReplyDelete

  2. Awesome information..
    Keep writing and giving us an amazing information like this..

    ReplyDelete
  3. Bagi pria, impoten atau masalah disfungsi ereksi menjadi mimpi buruk saat bercinta. Namun wanita pun sebaiknya jangan langsung meninggalkan pasangan yang mengalami kesulitan seperti itu. Jadi coba simak tips menghadapi pria impoten di atas ranjang seperti yang dilansir dari Cosmopolitan berikut ini.

    Bukan salah Anda
    Pada awalnya, wanita merasa bersalah ketika tahu bahwa pasangannya tidak terangsang. Padahal masalah disfungsi ereksi ini bukan sepenuhnya salah wanita. Sebab kondisi kesehatan pria yang sebenarnya menjadi penyebab impotensi.

    Memahami pria
    Pria yang menderita impotensi cenderung enggan bercinta dan membicarakan masalah tersebut pada pasangannya. Jadi wanita pun sebaiknya tidak menjadikannya bahan gurauan. Sebaliknya, pahami posisi pria dan jangan anggap sepele masalah ini.

    Mencari penyebab
    Ada banyak faktor yang bisa memicu disfungsi ereksi. Misalnya stres, kondisi fisik yang lemah, atau pengaruh obat-obatan. Cari tahu penyebab yang sebenarnya dari impotensi pria untuk mengatasinya dengan segera.

    Andrologi | Mengatasi ejakulasi dini

    Infeksi saluran kemih | Gangguan fungsi seksual

    Klik chat | Free chat

    ReplyDelete